MEMOAR SI PEMALU

Posted: April 2, 2010 in Uncategorized
Tags:

Aku seorang pemalu yang akut. Mungkin karena aku tidak dilahirkan dengan otak seencer Habibi atau dengan wajah Dude Herlino. Aku juga tidak dilahirkan di tengah keluarga pengusaha kaya semacam Bakrie. Aku terlahir dari kalangan ekonomi pas-pasan kalau tidak mau dikatakan miskin.

Sewaktu masih berseragam putih merah, aku paling tidak suka (tidak berani) maju ke depan kelas. Karena, tiap berada di depan kelas, aku merasa seperti terbang entah ke langit mana, tak ada sepatah kata keluar, yang deras mengucur adalah keringat dingin beserta gerakan-gerakan ’aneh’ ( macam steve Urkle ).

Sejak kecil aku suka sekali menggambar. Tak bisa lihat kertas kosong, langsung saja aku coreti dengan pensil atau krayon. Bahkan kalau kreativitas itu memuncak, tanah-tanah di pelataran rumah siap-siap jadi lembaran raksasa yang memuat gambar-gambarku itu.


Aku pernah bermimpi menjadi seorang kartunis. Mungkin ini kuwarisi dari almarhum pakde. Tapi, bermimpi seperti itu pasti akan ditolak mentah-mentah sama kedua orangtuaku. Prospeknya tidak menjanjikankah?, entahlah, saat itu aku memang jadi remaja ”pingit”.

Waktu SMP, aku gemar membaca. Apa saja kubaca. Mulai majalah bekas, komik, bahkan yang tak lazim seperti label susu, komposisinya, terkadang pula potongan koran bekas bungkus ikan asin atau belacan kerap kubaca terlebih dahulu baru –bila kurasa tak menarik- dibuang ( betapa narsisnya aku waktu itu).

Beranjak SMU, selera membacaku menggila. Perpustakaan kerap jadi sarang ‘laparku’. Walau harus berdesakan mengantri masuk ke perpustakaan (hehe macam ngantri di supermarket) dan jarak kelas yang cukup jauh, aku rela mengayuh kaki ke perpustakaan. Sekedar mengingat, (ehm) di sini aku bertemu dengan cintaku, Nelva, cinta yang tak pernah terungkap, hingga kini, ah dimana ya sekarang ia? masih ingatkah ia lagu ’Masih (sahabatku kekasihku)’ Ada band itu?.

Titik kulminasi meyakini aku bisa menulis fiksi adalah saat di kelas 3 SMU, Bu ’JH’, guru bahasa dan Sastra Indonesia –yang terkenal dengan cubitan yang ’pedas’ itu- menugaskan membuat beberapa kata –kata sulit (sekitar 25an) menjadi sebuah cerpen. Aku lupa judul cerpen yang kubuat, tapi yang begitu membekas di alam bawah sadarku, waktu itu akulah satu-satunya di kelas 3 yang mendapat nilai A+, betapa naik daun telingaku waktu itu (hehe). Selang beberapa bulan kabar baik juga menyerta, raihan juara kelas kuraih di depan mata-mata yang mencemoohku itu (hehe, Guntur, Andre, Uhud, betapa kulihat kabut di wajah kalian waktu itu).

Namun, bagiku, kota Siantar bukanlah kota yang tepat untuk menyuburkan minat menulisku. Terbukti waktu itu, aku hanya bisa ’berguru’ pada lembaran-lembaran majalah – semacam Aneka, Annida dan beberapa majalah bekas yang tak kutahu apa judulnya). Tak ada sesosok yang bisa ku tanya-tanya tentang minatku ini.

Maka tatkala ku hijrah ( lebih pas ketimbang terdampar ) ke Medan, bekerja di sebuah instansi pendidikan, dan setahun kemudian aku –beruntung bisa- kuliah di sebuh kampus dengan biaya yang –katanya- murah (menurutku sih mahal), mudah dijangkau dengan transportasi darat, laut..udara :) .

Aku dilema saat itu, karena semenjak terdampar di Medan, aku memang tak berniat kuliah –tapi mau kulliyah- karena aku tahu orangtua di kampung tak akan sanggup mengkuliahkanku, kalaupun sanggup, rasanya aku tak mau menambah pikulan beban di pundak mereka. Tapi, apa mau dikata, atas anjuran kakakku, juga restu emak dan ayah, maka bismillah aku melangkah menjejakkan tempat yang –sumpah!-tak pernah aku bermimpi menjadi : Mahasiswa.

Tanpa berpikir pendek –apalagi panjang- aku langsung memeluk kelas Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Mantap!, laki-lakinya Cuma lima orang, jadi kalau –boleh sombong sedikit- masuklah aku nominasi harapan satu, itupun harapanku (hehe). Citaku hanya satu di sana, bisa memaksimalkan kemampuan menulisku, lalu mengajarkan pada generasi muda. Aku pun memekik girang, tatkala di semester satu sudah masuk materi sastra dan menulis. Sempat kuraba-raba ( bosen dengar-dengar) jurusanku itu ternyata memfokuskan untuk maksimalkan empat kompetensi dasar berbahasa ( Membaca, menyimak, berbicara dan menulis).

Tapi apa lacur, di sini aku malah terasing dalam keramaian. Aku merasa jadi sesosok yang munafik pangkat tujuh (kalikanlah sendiri). Bagaimana tidak?, aku jurusannya sastra, tapi –sumpah!- tidak pernah di kelas ada kegiatan semacam itu, hanya kelas-kelas bermateri kering berhulu dari diktat yang dilihat dari tahunnya sudah ’wajib’ dimuseumkan.

Tapi apa lacur (lagi), hanya aku yang kurasakan ini?, aku heran seheran –herannya ( hiperbolis). Lantas apakah aku menyerah?, oh tidak kawan, aku pejuang dan petarung dari Titik sandora hingga titik puspa (hehe). SolusinyaAku buat media, namanya website ( waktu itu belum ada Blog, friendster apalagi facebook ) menggunakan Ms.Frontpage dan ku publish di Geocities –setahun terakhir layanan ini telah dihapus penyedianya. Beberapa karyaku sempat kuposting di situs ini. Dan hanya sekedar itu, tak ada foolow up, tak ada nyali –barang setitik!- mengirimkan ke media.

Hingga waktu merambat, cukup lama dan kini aku pun berada di penghujung kuliahku, semester tujuh. Membangun komunitas KOMA (komunitas pecinta membaca dan berkarya) yang memang menjadi asaku agar mahasiswa Bahasa dan sastra indonesia menjadi akademisi yang –juga-praktisi sastra.
Merangkak bersama ternyata menguatkanku, secara pribadi aku merasa tak kesepian di kampus yang kering sastra ini, bahkan geliat KOMA mampu mengail minat kawan-kawan yang semula lesu di UKM Seni untuk membuat kegiatan dan membuka ’batok’ yang selama ini menutupinya. Juga komunitas-komunitas jurusan pun turut bermunculan bak jamur di musim hujan, baguslah itu.

Aku bersyukur, karya di media sudah kugurat lewat ’Catatan Sahari’ –Rubrik B’Gaul, Medan bisnis, 31 Januari 2010. Juga atas cerpenku ’Pak Uban’ yang lebih dahulu masuk sebagai salah satu cerpen terbaik dalam antologi Cermin HMJ BSI SUMUT.

Walau sudah banyak mahasiswa yang terseleksi alam di KOMA, tapi memang seperti itulah kehidupan, kita tak bisa memastikan, terkadang seseorang yang kita anggap bisa melanjutkan perjuangan nyatanya bergegas berkemas kembali ke kegelapan, malah yang tak kita kira bisa berkontribusi banyak di KOMA, tiba-tiba muncul sebagai energi baru dengan loyalitas yang buatku geleng-geleng kepala.

Aku bersyukur –lagi. Beberapa keluarga di KOMA juga sudah bisa menetaskan karya-karyanya di media, Tiflatul Husna, Lilik suryadi, Farida Hanum juga yang lain, ah… aku merasa Bahagia saat ini. Setidaknya ini adalah shock theraphy untuk kawanan ’ternak’ yang kerap melenguh dan kelak mengaku mencetak tapi cetakannya retak-retak.

Jujur, sampai saat ini aku masih tidak percaya, kalau KOMA bisa ada dan menjadi bagian dari jejak –setidaknya mahasiswa- Sastra Sumatera Utara. Tapi di balik semua ini, aku merasa malu menyandang Ketua KOMA, karena aku sendiri masih tetap pemalu. Lantas, apakah aku harus berhenti menjadi seorang pemalu?. Kalau iya, bagaimana caranya?.

Ah, sampai saat ini aku masih menjadi seorang pemalu yang akut. Walau tidak sekronis dulu. Menulis, apalagi jika karya diterbitkan di media cetak atau dimuat dalam bentuk buku, ternyata bisa meningkatkan rasa percaya diri. Apapun, hingga kini rasa malu masih aku pelihara, walau terkadang harus ku usir –apalagi saat terdesak.

Hei kawan lihatlah!, saat ini aku tidak sendirian. Ada banyak saudara di KOMA yang selalu di sampingku, ada keluargaku, ada Kerabat KOMA di sebrang sana, KOMPAK dan KOMPAS yang saling memotivasi dan turut serta menebar asa meninggalkan jejak di dunia lewat gurat kata-kata, ada Komunitas besar di sana (KSI,HP, Berbagai teater yang tetap konsisten menjadi barometer sastra di Sumatera Utara).

Padamu dan semesta aku berkabar: di KOMA aku bahagia.
Alhamdulillah ^_^.

Gazebo imaji , 29 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s