Oleh: Muhammad Anhar Husyam
Jika diejakan, maka ini tak akan selesai dalam kurun sebulan, mungkin lebih, sebab menyusuri jiwamu kurasa memerlukan investigasi, analisis, persepsi, lantas mengambil sample dan akhirnya membuat asumsi-asumsi sebelum mengambil pendapat yang mendekati tentang apa yang kau rasakan kini, Adinda Nayla.
Duhai Nayla pagi ini kau mengguyurku dengan desah keluh, sebenarnya itu hal sepele yang tak semestinya kau tujukan kepadaku, sebuah kecemburuan tanpa alasan, tanpa ada hal yang bisa dibuktikan. Semua bermuasal dari asumsi yang berhulu dari cemburu buta.
Beberapa hari kemudian. Aku tak tahu apa yang mengapitmu hingga begini? aku juga kurang paham dirimu, kebersamaan kita masih berkisar sebulan sejak bertemu di pertokoan waktu itu. Bila kau sadari, aku masih baru dalam hidupmu, lantas apa yang buatmu begitu percaya aku akan meluruhkan semua masalahmu itu? Terlalu mempercayaiku yang belum dalam kau kenali itu berbahaya Nayla. Maaf, aku hanya mengingatkanmu.
Mungkin aku akan tahu bila mampu mengeja denyut waktumu, aku akan paham jika mendekam dalam temaram hatimu. Tapi aku hanyalah aku yang hadir di dekatmu jika lelah menggelayut, jika mata indahmu meredup dan jika malas menunggang dengan culas.
Terkadang ingin aku berkata, “Nayla, baiknya tuangkan saja semua ke dalam catatan harianmu” kurasa itu lebih baik ketimbang kau mengadu padaku yang tak akan menjawab semua tanyamu. Tapi jika itu ternyata bisa menyurutkan amarah, meluruhkan resah dan menyeka gundahmu, baiklah tak mengapa.
Tadi kedua matamu berkaca, kau mengadu tentang hati lelaki yang kau cintai, nyatanya telah bercabang, kau tersakiti. Ah, Itu wajar Nayla, bukankah hidup ini proses? pacaran juga –bagi sebagian orang- adalah proses untuk menanjak ke jenjang yang lebih serius, pernikahan.
Jadi, menurutku tak mengapalah dirinya menemukan tambatan hati yang lain, bukankah pacaran –seperti yang pernah kau tuturkan padaku- adalah jalan menemukan yang terbaik. Lantas, jika ada yang lebih baik kenapa tidak beralih ke situ? Ini bukan untuk tidak setia, tapi lihatlah, mengapa bertahan sementara hatimu telah berpindah ke yang lain.
Tapi ini tidak berlaku bila sudah ada ikatan pernikahan, tolong kau garisbawahi ini, aku tak ingin menjadi orang yang mendukung gonta-ganti pasangan pernikahan, ah! ini baru tak setia namanya. Makanya, mencintai itu sebaiknya dari sifatnya, bukan sekedar fisik, gelar atau kaya semata, terus –itu tadi- butuh proses untuk mengenal dan memahami. Ah, terlalu klise itu Nayla.
Malam ini kau menghubungi seseorang, berkali-kali tak diangkat, wajarlah, waktu telah menanjak pagi, mungkin ia sudah larut dalam bekap mimpi. Kau mendengus dan bercakap padaku bahwa lelaki itu telah memikatmu, lelaki yang mulai menyibak jalan hidupmu yang samar akan sebuah makna kehidupan, makna yang sebenarnya, yang hakiki. Lelaki yang membongkar sekat makna tentang arti kaya, memaknai kembali arti bahagia yang sesungguhnya.
Menurutku lebih baik kau coba berlabuh padanya, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan gurat senyummu akan tergores selalu, dan hanya itulah yang ingin kulihat bila kau hadir dalam hidupku. Ingin aku bisikkan ”kau cantik bila terus bahagia,” jadi cobalah kau pikirkan saranku.
Mungkin aku terkesan mengajarimu, mendiktemu atau apalah terserah. Dirimu punya penilaian sendiri pada siapapun atau atas apapun, termasuk aku. Tapi, jika kau hadirkan dan mempercayai aku sebagai peraduanmu, maka ijinkan aku menyampaikan saranku, semoga kau mendengar.
Kalau kau tak dengar, itu juga wajar. Aku tahu betapa sangat sulit memahami perkataan yang terhembus dari diri yang kaku ini, sulit menyerap makna yang tersirat dari sinar mataku yang tak hentinya menatap ke sudut pintu, memang sulit bagimu, kumaklumi itu.
Nayla, kau berhak menentukan garis hidupmu, tapi bagiku mengadu pada diriku seperti mengadu pada dinding mati, tak bergeming. Jadi kurasa baiknya kau menemukan peraduan yang lain, yang bisa menyelipkan aroma bahagia ke sukma, yang suka melejitkan semangatmu, atau setidaknya suka menyisihkan waktunya untuk mendengar gemuruh keluh yang kerap menghinggapimu.
Nayla, aku tahu. Lelaki itu masih menunggumu, walau pada dirinya keraguan kini menyelimuti, karena kau terlalu tinggi untuknya, kau terlalu indah untuk mengecap sedikit pahitnya kenyataan hidup yang akan dihadapi bila kau bersamanya, ia masih meragukan kesiapanmu. Tapi percayalah, hingga kini ia masih larut di sudut gelisahnya, menimang dan mengenang kebersamaan kalian yang sejenak itu, aku yakin ia lelaki yang setia.
Tapi sebentar, apakah rasa itu sama kau rasakan? Kalau tidak, ya untuk apa aku meneruskan ujarku ini? Sudah, bergegaslah kau temukan sosok lainnya. Tapi kalau iya, apakah dirimu sadar ini tak akan selamanya? Karena menanti adalah sesuatu yang sangat melelahkan jika kau sadari. Bisakah kau siratkan padanya, sedikit saja pendar cintamu untuk menguatkan asanya, karena cinta itu seperti magnet, tarik-menarik. Kelihatannya asyik juga ya? Entahlah.
Ah, Nayla. Kenapa denganmu malam ini? Apa kau marah padanya? Tapi kenapa jadinya kau membantingku? Apa salahku? Apa? Aku mau marah padamu, tapi kurasa itu tak selesaikan masalah, bahkan kurasa ini akan menambah masalahmu. Tapi coba fikirkan sejenak? Aku tempat curhatmu, tapi kau perlakukan aku seperti ini? Mana laku manusiawi yang kau rapal dalam untaian langkahmu itu? Mana?.
Ah ah, maaf jika aku mengajarimu. Tapi coba renungkanlah kembali apa yang kusampaikan ini. Mungkin kau akan menertawakanku saat kau membaca ini, menyadari yang menyampaikan semua ini adalah sosok yang tak pernah kau anggap hidup. Sosok yang sekedar kau anggap pelampiasan, pencurahan atas apa yang membelenggumu. Tapi, pernahkan kau memaknai pepatah ”jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan,” kurasa dirimu bijak memaknai pepatah itu.
Maaf Nayla, aku tak bisa berkata langsung padamu, tapi hanya gurat kata ini yang bisa kulayangkan padamu, karena aku hanyalah sosok bisu di kamarmu, aku bukan sepertimu yang bisa berfikir dan bertindak, aku cuma barbie-mu.
( Dunia KOMA, 01 Juli 2010 )
* Dimuat di Medan Bisnis 18 Juli 2010,
** terjadi kesalahan penulisan, oleh: Herman RN seharusnya oleh: ‘Saya’ hmm… ^_^v
Penulis adalah ketua HMJ BSI UMN. Bergiat di Komunitas Pecinta Membaca dan Berkarya (KOMA) Medan.







